(本报讯)6月4日,印尼国家广播电台 (RRI Pro 1 ) 与泗水 99.2 FM 联合播出 《印尼马赛克:文化与旅游遗产》特别节目。本期节目以“泗水多样性文化”为主题,邀请三位来自泗水艺术与文化领域的重要人物,围绕本地文化保护与融合展开一场深入且亲切的访谈。

应邀出席的嘉宾包括:摄影师、画家兼“努山打拉艺术文化社群”创办人邵亮明先生,华人文化推动者、“泗水文化遗产协会”创始人Freddy H. Istanto先生;以及视觉艺术家、美术教育者、“努山打拉艺术文化社群”管理人Hangga Ganiadi先生。

中华文化
寺庙与宗教活动:多座庙宇与供奉场所成为当地华人精神信仰与社区活动的中心。
美食:如包子、鸡丝面、中式点心等,成为街区日常不可或缺的味道。

阿拉伯文化
清真寺与建筑风格:融合本地特色的阿拉伯式清真寺为街区增添独特风貌。
美食:如香料饭(Nasi Kebuli)、煎饼(Martabak)与传统香料、茶等,丰富了餐饮文化。

马都拉与爪哇文化
传统与仪式:当地马都拉和爪哇族群保留着丰富的仪式与宗教活动,展现多元生活的多样性。
美食:如马都拉沙爹和爪哇式菠萝蜜炖菜(Gudeg)等,广受欢迎。

在建筑、美食与传统中交融繁荣街不仅是地理空间,更是一幅活生生的文化图景,其多元文化特征可从以下几个方面清晰体现:
建筑风格:殖民时代的老建筑与中式、阿式装饰细节交织共存,记录着城市历史的变迁。
餐饮景观:从高档餐厅到街头小吃摊,各类族群的料理在此交汇,反映城市味觉的多元。
节庆与社群互动:各族群共同参与宗教节日、文化庆典及社区活动,形成和谐、包容的社会氛围。
“我们希望泗水的华人街区能像三宝垄的老城区那样,发展成为兼具文化保护、教育意义及旅游吸引力的历史街区。”邵亮明补充道。
通过这场讨论,三位文化人物一致呼吁:大众不应止步于欣赏文化的外在美,更应积极参与其中,成为文化传承与推广的一分子,让多元文化成为印尼国家身份不可或缺的组成部分。
Mozaik Budaya di Kembang Jepun:
Tiga Tokoh Surabaya Angkat Harmoni dalam Keberagaman
Surabaya, 4 Juni 2025 — RRI Pro 1 Surabaya 99.2 FM kembali menghadirkan perbincangan inspiratif dalam program Mozaik Indonesia: Pelestarian Budaya dan Pariwisata, yang kali ini mengangkat kekayaan budaya Surabaya melalui sesi bincang santai bersama tiga tokoh seni dan budaya.
Hadir sebagai narasumber, Rasmono Sudarjo —fotografer, pelukis, dan pendiri Komunitas Seni Budaya Nusantara, Freddy H. Istanto—aktivis kebudayaan Tionghoa sekaligus pendiri Surabaya Heritage Society, serta Hangga Ganiadi—visual artist dan pendidik seni rupa, yang juga pengurus Komunitas Seni Budaya Nusantara.
Dalam bincang tersebut, Rasmono menekankan pentingnya melestarikan seni dan budaya Nusantara sebagai warisan luhur bangsa. Ia menyoroti kawasan Jalan Kembang Jepun, Surabaya, sebagai miniatur harmoni antarbudaya yang hidup berdampingan secara dinamis.
“Di Pecinan Surabaya ini, kita bisa melihat langsung perpaduan budaya Tionghoa, Arab, Madura, dan Jawa yang berjalan selaras. Ini adalah potret nyata keanekaragaman budaya Indonesia,” ujar Rasmono.
Kembang Jepun: Lintasan Empat Budaya
Kawasan Kembang Jepun dikenal sebagai salah satu titik bersejarah di Surabaya, yang menyimpan kekayaan budaya dari berbagai etnis dan komunitas:
Budaya Tionghoa
Kuil dan Klenteng: Menjadi pusat spiritual dan kegiatan masyarakat Tionghoa.
Kuliner: Ragam makanan khas seperti bakpao, mie ayam, dan camilan oriental mewarnai suasana jalanan.
Budaya Arab
Masjid dan Arsitektur: Masjid-masjid bergaya Arab klasik dengan sentuhan lokal menjadi ikon kawasan ini.
Kuliner: Hidangan seperti nasi kebuli, martabak, dan teh rempah turut memperkaya cita rasa.
Budaya Madura dan Jawa
Tradisi dan Adat: Upacara adat dan kegiatan religius masyarakat Madura dan Jawa menambah warna kehidupan di wilayah ini.
Kuliner: Sate Madura dan gudeg menjadi sajian khas yang mudah dijumpai.
Harmoni dalam Arsitektur, Kuliner, dan Tradisi
Kembang Jepun bukan sekadar ruang fisik, melainkan lanskap budaya yang hidup. Perpaduan budaya tampak dalam berbagai aspek:
Arsitektur: Gedung-gedung tua bergaya kolonial bercampur dengan ornamen khas Tionghoa dan Arab.
Kuliner: Restoran dan pedagang kaki lima menyajikan menu lintas budaya dalam satu tempat.
Tradisi: Perayaan hari besar lintas budaya dan kegiatan komunitas membentuk atmosfer yang toleran dan terbuka.
“Kami berharap kawasan Pecinan Surabaya bisa dikembangkan seperti Kota Lama Semarang, menjadi destinasi wisata budaya dan edukatif bagi generasi muda,” tambah Rasmono.
Dengan semangat pelestarian dan inklusi, ketiga tokoh tersebut mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati keindahan budaya, tetapi juga ikut menjaga dan mempromosikannya sebagai identitas bangsa. (Red)














