(泗水之声网讯)国会第十委员会表示支持继续执行文化部发起的改写印尼历史的计划。
文化部长与国会第十委员会于5月26日在雅加达Nusantara I大厦举行的工作会议上表达了这一支持。参加会议的国会第十委员会34名成员和8个派别,大多数人同意应该继续书写印尼历史。会议上还有文化部副部长、文化部一级领导、国家史书编纂组参加。
在此次工作会议上,文化部与国会第十委员会一致认为,编写印尼历史必须让更多利益相关方参与,这样才能使印尼历史书籍的编写客观、透明、深入、全面、整体、包容,并代表民族的集体记忆。此外,它还有利于知识和教育,以及培养学术上可考量的国民素质。
国会第十委员会主席Hetifah Sjaifudian表示,让公众了解起草过程以及参与者非常重要。我们希望文化部公开解释这段历史是如何撰写的。谁参与了?采用了什么方法?这很重要,这样公众才能信任和接受最终结果。
文化部长Fadli Zon,重写印尼历史非常重要,特别是要消除当前历史叙述中仍然固守的殖民偏见。撰写这段历史的紧迫性不仅仅是学术性的。它是为了确立以印尼为中心的视角,应对时代的挑战,加强民族认同,并为更加自主和包容的历史提供空间。
迄今为止,教授的大多数历史叙述仍然局限于殖民框架,与当前的挑战还不够相关。Fadli说,我们不能继续依赖殖民遗产的历史叙事。改写历史不再是一种选择,而是一种必需。该项目将出版十卷历史书籍,涵盖从努山打拉文明早期到宗教改革时代的内容。希望本书能够成为印尼历史教育的主要参考书。这本书的内容并非逐一详述每个事件的细节,而是从我们自身视角出发,构建一个国家历史的宏大框架。此前很少受到关注的印尼视角,如今已成为中心。
Fadli部长还表示,目前写作过程正在进行中,如果完成度达到70%,文化部将开放空间供公众讨论。之后我们会进行公众测试,邀请各领域的专家参与。这样这本书才能真正反映出国家的集体记忆。这篇历史著作将具有包容性,并优先考虑透明度、客观性和学术责任。(小潘)
DPR RI Setujui Penulisan Ulang Buku Sejarah
Suarasurabaya.net Komisi X DPR RI menyatakan dukungannya terhadap kelanjutan program penulisan ulang sejarah Indonesia yang digagas Kementerian Kebudayaan.
Dukungan tersebut terungkap dalam Rapat Kerja antara Menteri Kebudayaan dengan Komisi X DPR RI di Gedung Nusantara I, Jakarta, Senin (26/5/2025).
Dalam rapat yang dihadiri oleh 34 anggota Komisi X dan delapan fraksi itu, mayoritas menyetujui agar penulisan sejarah Indonesia tetap dilanjutkan.
Turut hadir Wakil Menteri Kebudayaan, jajaran eselon I Kementerian Kebudayaan, serta Tim Penyusun dan Editor Buku Sejarah Nasional.
Dalam Raker ini, Kementerian Kebudayaan dan Komisi X DPR RI menyepakati bahwa penulisan sejarah Indonesia harus melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan agar buku sejarah Indonesia ini dapat ditulis secara objektif, transparan, mendalam, komprehensif, holistik, inklusif dan merepresentasikan memori kolektif bangsa.
Selain itu, juga memiliki manfaat untuk pengetahuan dan pendidikan, serta membangun karakter bangsa yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR RI, mengatakan penting bagi publik untuk mengetahui bagaimana proses penulisan ini dilakukan, serta siapa saja yang dilibatkan.
“Kami ingin Kementerian Kebudayaan menjelaskan secara terbuka bagaimana sejarah ini ditulis. Siapa yang dilibatkan? Apa pendekatannya? Ini penting agar hasilnya bisa dipercaya dan diterima masyarakat,” kata Hetifah.
Fadli Zon Menteri Kebudayaan menekankan bahwa penulisan ulang sejarah Indonesia sangat penting, terutama untuk menghapus bias kolonial yang masih melekat pada narasi sejarah saat ini. “Urgensi penulisan sejarah ini bukan sekadar akademik. Ini upaya menegaskan perspektif Indonesia-sentris, menjawab tantangan zaman, memperkuat identitas nasional, serta memberi ruang bagi sejarah yang lebih otonom dan inklusif,” tegas Fadli.
Ia menambahkan, sebagian besar narasi sejarah yang diajarkan selama ini masih terjebak dalam kerangka kolonial dan belum cukup relevan dengan tantangan kekinian. “Kita tidak bisa terus mengandalkan narasi sejarah warisan kolonial. Penulisan sejarah ulang ini bukan lagi pilihan, tapi sebuah keharusan,” ujarnya.
Fadli juga mengungkapkan bahwa proyek ini akan menghasilkan sepuluh jilid buku sejarah, mulai dari masa awal peradaban Nusantara hingga era Reformasi.
Buku tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan utama dalam pendidikan sejarah di Indonesia.
Isi buku ini bukan rincian peristiwa per peristiwa, melainkan kerangka besar sejarah bangsa dari sudut pandang kita sendiri. Perspektif Indonesia yang selama ini kurang mendapat tempat, kini menjadi pusat,” jelasnya.
Menbud juga menyampaikan bahwa proses penulisan saat ini sudah berjalan dan jika mencapai tahap 70 persen, Kementerian akan membuka ruang diskusi publik. “Nanti akan kami uji publik, libatkan banyak ahli dari berbagai bidang. Ini penting agar buku ini betul-betul mencerminkan memori kolektif bangsa,” tambahnya.
Penulisan sejarah ini, lanjut Fadli, akan bersifat inklusif dan mengedepankan transparansi, objektivitas, serta akuntabilitas akademik.













